Untuk Segala Sesuatu Ada Waktunya

Kamis, 24 November 2011

Untuk segala sesuatu ada masanya, Untuk apapun dibawah langit ada waktunya
Ada waktu untuk lahir, Ada waktu untuk meninggal,
Ada waktu untuk menanam, Ada waktu untuk mencabut apa yang ditanam
Ada waktu untuk membunuh, Ada waktu untuk menyembuhkan
Ada waktu untuk merombak, Ada waktu untuk membangun
Ada waktu untuk menangis, Ada waktu untuk tertawa
Ada waktu untuk meratap, Ada waktu untuk menari
Ada waktu untuk membuang batu, Ada waktu untuk mengumpulkan batu
Ada waktu untuk memeluk, Ada waktu untuk menahan diri dari memeluk
Ada waktu untuk mencari, Ada waktu untuk membiarkan rugi
Ada waktu untuk menyimpan, Ada waktu untuk membuang
Ada waktu untuk merobek, Ada waktu untuk menjahit
Ada waktu untuk berdiam diri, Ada waktu untuk bebricara
Ada waktu untuk mengaisihi, Ada waktu untuk membenci
Ada waktu untuk perang, Ada waktu untuk damai
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
Ia (Tuhan Allah) MEMBUAT SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal hingga akhir.

Sumber : Al-Kitab (PENGKHOTBAH 3:1-11)

God Will Make A Way "Story Behind The Song"

Rabu, 23 November 2011

Di suatu larut malam Don Moen menerima telpon yang memberitakan berita menyedihkan, bahwa adik iparnya telah kehilangan putra sulungnya dalam suatu kecelakaan mobil.
Craig dan Susan Phelps dan keempat anak mereka sedang melakukan perjalanan dari Texas ke Colorado saat mobil mereka ditabrak oleh truk peti kemas. Pada saat tabrakan terjadi semua anak mereka terlempar keluar dari mobil, hanya mereka berdua saja yang masih di dalam mobil.
Dengan susah payah mereka berdua mencari keempat anak mereka dan mengumpulkannya di suatu tempat. Keempat anak mereka mengalami luka parah, tapi sewaktu Craig (ia seorang dokter) mendapati Jeremy, anak itu telah meninggal karena patah leher, sehingga tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menolongnya.
Sewaktu Don Moen menerima kabar tersebut beberapa jam kemudian ia berkata, "Saya merasa terguncang, tapi besok saya harus terbang ke kota lain untuk melakukan rekaman sesuai dengan jadwal yang telah diatur beberapa minggu sebelumnya. Sekalipun saya tahu mereka berduka, saya tak dapat bersama mereka sampai satu hari sebelum pemakaman.
Dalam penerbangan pagi itu, Tuhan memberinya suatu inspirasi baginya satu lagu baru dengan syair sebagai berikut, "God will make a way where there seems to be no way. He works in ways we cannot see. He will make a way for me. (Dia buka jalan saat tiada jalan, dengan cara yang ajaib Dia buka jalanku)"
Dasar dari lagu ini adalah Yesaya 43:19, "Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?" Ya, aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara…
Di kemudian hari Susan menulis, "Kami melihat kebenaran dari ayat tersebut." Sewaktu teman-teman Jeremy mengetahui bahwa ia telah menerima Kristus sebelum ia meninggal, mereka mulai bertanya-tanya kepada orangtuanya masing-masing tentang suatu jaminan bahwa mereka dapat ke surga sewaktu mereka meninggal. Kecelakaan itu juga membawa berkat terselubung bagi Craig dan Susan, karena sejak peristiwa itu hubungan mereka dengan Tuhan semakin meningkat dan mereka masuk ke dalam pelayanan yang lebih lagi padaNya.
Susan juga mennceritakan, "Di hari kecelakaan itu sewaktu saya keluar dari mobil untuk menolong anak saya, saya merasa bahwa putra sulung saya telah meninggal. Dan saya mempunyai pilihan untuk marah dan mengalami kepahitan atau secara total menerima semua rencanaNya pada saya. Dan saya pun melihat buah dari semua pilihan saya itu, dan pilihan yang saya ambil, akan berulang secara terus menerus. Saya merasa bahwa kematian putra saya tak sia-sia, begitu saya mengetahui di kemudian hari begitu banyak jiwa yang datang pada Tuhan karena tragedi ini. Benar ! Ia telah membuka jalan bagi kami sekeluarga."
Segera setelah "God Will Make Away" masuk dapur rekaman, Don Moen menerima begitu banyak telpon, surat dan sharing yang menceritakan tentang tragedi yang mereka alami. Semua telpon dan surat yang masuk mempunyai tema yang sama bahwa Tuhan telah membuka jalan bagi mereka, saat mereka dalam keadaan putus harapan. Betapa Tuhan telah membawa mereka keluar dari situasi mereka yang tak ada harapan dengan memberi mereka kekuatan, iman dan harapan baru untuk menghadapi kehilangan yang mereka alami.
Mungkin diantara kita ada yang pernah atau sedang mengalami kondisi seperti kisah dari lagu ini. Dan memang saya sangat mengakui secara pribadi bahwa terkadang kita yang sudah sering pergi ke Gereja atau sering mebaca Firman Tuhan juga sulit untuk menerima kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kesaksian ini (kisah nyata) membuktikan sekali lagi bahwa Tuhan akan membuka jalan bagi mereka yang menaruh harapan kepadaNya, dan hal ini bukanlah suatu hal yang sia-sia. Semoga kita semua dapat terinsiprasi dari kisah diatas dan menjadi pribadi yang kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan. Tuhan memberkati 

Lirik lagu ini adalah sebagai berikut :
God will make a way
Where there seems to be no way
He works in ways we cannot see
He will make a way for me
He will be my guide
Hold me closely to His side
With love and strength for each new day
He will make a way… He will make a way
By a roadway in the wilderness, He'll lead me
And rivers in the desert will I see
Heaven and earth will fade
But His Words will still remain
He will do something new today.

Dia buka jalan,Saat tiada jalan,
Dengan cara yang ajaib,
Dia buka jalan bagiku,
Dia kan menuntun,
Dan memeluk diriku,
Dengan kasih dan kuasa,
Dia buka jalan… Dia buka jalan
Dia buka jalan
Di padang gurun
Sungai-sungai dipadang belantara
Langit bumi kan lenyap
Tapi firmanNYA tetap
Dia buka jalan saat ini …

Sumber: Buletin Kampung Baru Edisi Mei 2004

Cerita Sedih dibalik Lagu "Tears in Heaven" By Eric Clapton

“Tears In Heaven”, saya kira mungkin banyak dari kita yang telah mengetahui atau minimal mendengarkan lagu tersebut. Karena secara pribadi, sayamengakui bahwa lagu ini cukup teduh bila didengarkan. Tapi terlepas dari itu semua mungkin banyak juga dari kita yang belum mengetahui alasan mengepa Eric Clapton menciptakan lagu ini. Dan disini saya hanya ingin berbagi mengenai kisah sedih dibalik lagu “Tears In Heaven” ini. Pada tanggal 20 Maret 1991 tepat jam 11 siang, anak laki-laki berusia 4 tahun yang bernama Conor Clapton meninggal karena terjatuh dari jendela lantai 53 di apartemen New York City.

Conor sedang dirawat oleh ibunya, Lori Del Santo, yang merupakan aktris italia. Mereka tinggal di sebuah apartemen selama berada di New York. Eric Clapton, juga berada di New York (sebenarnya rumah Eric terletak di Surrey, Inggris) dan tinggal di sebuah hotel terdekat pada saat terjadi kecelakaan tersebut. Clapton dan Del Santo tidak pernah menikah. Eric telah menikah dengan Pattie Boyd yang merupakan mantan istri George Harrison pada saat kelahiran Conor, Agustus 1986.

Kematian Conor menjadi kesedihan mendalam bagi Eric Clapton. Selama 9 bulan Eric diselimuti rasa duka yang mendalam dan ia tidak berkeinginan untuk tampil. Ketika dia kembali ke atas panggung, musiknya telah berubah menjadi lebih lembut, lebih kuat, dan lebih reflective.

Tears in Heaven (yang ditulis oleh Eric Clapton dan Will Jennings) adalah cara Clapton menuangkan kesedihannya dan merupakan bentuk penerimaannya terhadap kematian Conor. Lagu ini sebenarnya dibuat untuk sountrack film Rush pada tahun 1991, tapi sebenarnya itu dibuat Clapton untuk mengenang tentang Cornor.

"Eric dan saya terlibat dalam pembuatan film Rush. Kami menulis lagu berjudul 'Help Me Up' untuk lagu penutup. Kemudian Eric melihat suatu adegan di film untuk dibuatkan sebuah lagu dan ia berkata pada saya 'Aku ingin menulis lagu tentang anakku.'. Eric telah menulis bait pertama dari lagu tersebut, yang bagi saya itu merupakan arti dari semua lagu, tetapi dia meminta saya untuk menulis sisa bait yang ada ('Time can bring you down, time can bend your knees...') walaupun saya telah mengatakan bahwa ia harus menulis lagu itu sendiri karena ini sangat pribadi. Lagu ini merupakan lagu sedih dan sangat unik selama pengalaman saya menulis lagu." - Will Jennings

Pada Grammy Awards tahun 1993, Tears in Heaven memenangkan tiga penghargaan untuk lagu terbaik, rekaman terbaik dan penyanyi pria terbaik.. Lagu ini juga membantu meroketkan penjualan album "Unplugged" sehingga menjadi album terlaris Clapton sepanjang sejarah bermusiknya.

Ini liriknya :
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don't belong
Here in heaven

Would you hold my hand
If I saw you in heaven
Would you help me stand
If I saw you in heaven
I'll find my way, through night and day
Cause I know I just can't stay
Here in heaven

Time can bring you down
Time can bend your knee
Time can break your heart
Have you begging please
Begging please

(instrumental)

Beyond the door
There's peace I'm sure.
And I know there'll be no more...
Tears in heaven

Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don't belong
Here in heaven

Cause I know I don't belong
Here in heaven

Kutipan : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2147254

Kisah Di Balik Lagu "Sentuh Hatiku"

Senin, 21 November 2011

Betapa kumencintaiMU Segala yang t'lah terjadi Tak pernah sendiri jalani hidup ini Selalu Menyertai
Betapa kumenyadari Di dalam hidupku ini KAU selalu memberi rancangan terbaik Oleh karena kasih
Reff :BAPA, sentuh hatiku, ubah hidupku Menjadi yang baru Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku
BAPA, ajarku mengerti Sebuah kasih yang selalu memberi Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti

Banyak dari kita mungkin yang sudah tau lirik lagu diatas. Betapa tidak, lagu tersebut memang cukup terkenal dan sering dibawakan dalam ibadah-ibadah di Gereja-gereja (lintas denominasi), bahkan tidak sedikit dari kita yang sering juga menyanyikannya. Tapi, taukah kalian cerita dibalik terciptanya lagu ini?
Pencipta lagu ini adalah seorang hamba TUHAN, pelayanannya sungguh luar biasa...tapi, sebelumnya? dia bukanlah siapa-siapa..bahkan kehidupannya begitu menyedihkan...
Cerita dibalik lagu ini adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga dengan perekonomian yang mapan, tapi sejak umur 12 tahun dia diperkosa oleh ayahnya sendiri, dan itu berlangsung hingga 14 tahun lamanya...sampai ia sempat melahirkan anak dari ayahnya sendiri. sungguh sangat miris dan akhirnya ia menjadi stress dan gila, dan ia ditempatkan di pekarangan belakang rumah, dan dipasung di sana. ketika anak yang dilahirkannya itu bertanya kepada ayahnya, "pa, yang di belakang itu siapa?" tentu si anak tidak mengetahui dan ayahnya tidak mungkin memberitahukannya, dan si ayah mengatakan, "itu cicikmu yang gila." sungguh sangat miris ketika aku mendengar bagian ini...
Suatu hari, ada seorang hamba TUHAN yang menghampirinya dan mendoakannya, dan melakukan pelepasan pada gadis itu...setelah sadar, sungguh mujizat TUHAN, si gadis ini sadar 100%, TUHAN telah menjamahnya, dan menyembuhkannya. namun, setelah sadar, yang pertama terlintas di pikirannya adalah membunuh ayahnya sendiri, karena ia tau ayahnya yang telah membuatnya seperti itu. para saudaranya mencoba mencegah, dan hamba TUHAN yang mendoakannya memeluknya dan berkata, "kamu harus bisa memaafkan papamu," dan yang terjadi adalah TUHAN sekali lagi menjamahnya, ia tersungkur dan menangis sejadi-jadinya.

Seminggu kemudian, ia dipertemukan dengan ayahnya. di sebuah ruangan yang cukup besar, ayahnya berada di pojok ruangan, terduduk di kursi roda. ayahnya sudah tua dan terkena stroke. ketika si ayah melihat anak perempuannya, dia gemetar ketakutan. ingin sekali ia mengucapkan, "maafkan ayahmu ini nak, sungguh sudah sangat berdosa ayahmu ini membuatmu menjadi seperti sekarang ini," namun karena stroke yang dideritanya, ia tak dapat mengatakannya. tapi anak perempuannya berjalan mendekati ayahnya tanpa berkata apa-apa, berlutut di depan ayahnya, memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "pa, aku memaafkanmu". ayahnya sungguh terkejut, dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah kejadian itu, ia menulis sebuah puisi...yang pada akhirnya puisi tersebut menjadi lirik dari lagu BAPA SENTUH HATIKU yang dinyanyikan pertama kali oleh Maria Shandy....

Cerita ini benar-benar terjadi, dan menunjukkan memang TUHAN sangat mengasihi umatNya.....semoga cerita ini menjadi inspirasi & kekuatan bagi kita semua yang membacanya dalam menjalani hidup yang penuh dengan tantangan dan pergumulan ini. AMIN

Sumber :http://www.facebook.com/note.php?note_id=146227492080640

Only One

Broken this fragile thing now ..
And I can't pick up the pieces ..
And I've thrown my words all around ..
But I can't, give you a reason ..
I feel so broken up ..
And I give up ..
I just want to tell you so you know ...


Here I go, scream my lungs out ..
And try to get to you..
You are my only one..
I let go, ..
But there's just no one who gets me like you do..
You are my only, my only one..

Made my mistakes, let you down..
And I can't hold on for too long..
Ran my whole life in the ground..
And I can't get up when you're gone..

And something's breaking up ..
I feel like giving up ..
I won't walk out until you know..



Here I go, so dishonestly leave a note for you my only one..
And i know you can see right through me..
So let me go and you will find someone..

Arti Persahabatan

Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).



Sumber : Cerpen tentang persahabatan yang berjudul Arti Persahabatan ini buah karya Loeis Chandra, Mahasiswa di Sidoarjo - Jawa Timur. Cerpen arti Persahabatan juga telah ditayang pada Cerpen Persahabatan.

O Tano Batak

Tanah Batak terkenal sebagai gudangnya penyanyi-penyanyi kenamaan. Tanah Batak juga terkenal sebagai pusatnya pencipta-pencipta lagu terkenal.
Ciri khas masyarakat Batak yang to the point … spontan, terbuka … apa adanya … Membuat mereka sebagian besar menjadi orang yang tidak malu-malu mencurahkan isi hatinya dan mengeluarkan suaranya. Dan ini adalah modal utama seseorang untuk menjadi penyanyi yang baik.
Penyanyi-penyanyi dari Tanah Batak mempunyai ciri khas suara yang keras dengan power yang mantap dan Artikulasi yang jelas.
Namun demikian …
Disamping ciri khas yang spontan dan suara yang bertenaga …
Tanah Batak juga menyajikan sejuta kelembutan dan kesyahduan …
Salah satunya adalah tercermin melalui beberapa lagu-lagu daerahnya. Yang tentu saja diciptakan oleh putra-putri daerah Batak. Dan salah satu dari sekian banyak lagu Batak yang lembut tersebut adalah … O TANO BATAK …
Walaupun saya keturunan Batak (Papa & Mama orang Batak) tapi jujur saya masih belum hafal dan tau arti setiapa kata yang ada pada lagu iniNamun yang dapat saya simpulkan dan rasakan dari jalinan melodinya adalah Lagu ini penuh nada-nada kerinduan yang dibalut kebanggaan akan tanah kelahiran. Menurut beberapa catatan yang saya cari di Google, Lagu ini diciptakan oleh S Dis.
Dan inilah lirik lagu tersebut
O Tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho
Ndang olo modom, ndang nok matangku
Sai na malungun do au sai naeng tu ho.
O Tano Batak andigan sahat
Haholonganku tano hagondanganki
O Tano Batak sai tong hutatap au on naeng mian di ho sambulongki
Molo dung binsar mata ni ari, lao panapuhon hauma i
Godang do ngolu siganup ari, di namaringan di ho sambulongki



Sumber :theordinarytrainer.wordpress.com/2010/11/04/o-tano-batak/

Sai Anju Ma Au

Aha do alana, dia do bossirna hasian
umbahen sai muruk ho tu au ito
molo tung adong na sala na hubaen
denggan pasingot hasian
Molo hurimangi, pambahenan mi na tu au
nga tung maniak ate atekki
sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au
Reff.
Molo adong na sala
manang na hurang pambahenan ki
sai anju ma au, sai anju ma au
ito hasian
sai anju ma au, sai anju ma au
ito nalagu
Bagi yang orang Batak pasti lirik lagu diatas udah ga asing lagi di telinga kalian (walaupun ada juga orang batak yang gak tau hha). Lagu ini sengaja saya posting liriknya di blog ini karena maknanya yang dalem (sumur kali) hha. Tapi jujur saya suka dengerin lagu ini & salut sama yang menciptakan lagu ini, karena liriknya yang begitu menyentuh perasaan ditambah musiknya yang yenak dan ga ngebosenin (walaupun diulang berkali-kali). Mungkin bagi kalian yang bukan orang Batak juga ada yang suka sama lagu ini, karena musik dan temponya yang unik dan bagi kalian yang belum pernah denger lagunya, saya sekedar menyarankan untuk dengerin juga lagu ini, siapa tau lagu ini dapat membawa kedamaian dan inspirasi bagi kalian.  Mmm gak bisa koment apa-apa lagi dah, pokoknya bagus lagunya dan semoga akan ada lagi karya-karya lagu yang bagus kaya lagu ini yang bakal lahir dari seniman-seniman Batak. God Bless

Makna Di Balik Musik Gondang Batak & Tari Tor-tor

Gondang batak, salah satu karya seni musik batak yang sangat kaya dan menjadi kekaguman bagi dunia. Repertoarnya yang beragam memenuhi segala kebutuhan seni yang digunakan untuk beragam kegiatan seperti pada upacara keagamaan, adat dan hiburan.

Yang mirip gendang namanya tagading dan dimainkan sambil berdiri dengan menggunakan stik (pemukul). Selain tagading ada juga kecapi, serune (semacam terompet alat tiup, red), ogung (gong), dan seruling. Gondang Batak ini biasa dimainkan dalam acara-acara pernikahan adat Batak dan dalam berbagai acara lainnya. Apalagi jika dalam acara itu ditampilkan tarian khas Batak, tor tor.

Dapat digambarkan bahwa tortor Batak memaknai kehidupan seni-budaya Batak, persoalannya apakah bertentangan dengan agama atau tidak tergantung kepada cara pandang dan pemahaman kita. Bahkan akhir-akhir ini, justru dalam kebaktian agama (gereja) tortor dan gondang Batak telah menjadi bagian dan pendukung acara kebaktian (misalnya lakon pengakuan dosa dan mengantar persembahan digambarkan/dikoreografis dengan tortor Batak).

Dibalik Makna Tortor Bagi Suku Batak

Gambaran kehidupan orang Batak sebagaimana direfleksikan dalam tortor Batak tentu akan dapat dipahami melalui urut-urutan dan nama musik gondang yang diminta oleh tetua kelompok (paminta gondang), biasanya didahului dengan Gondang Mula-mula, Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip, dan seterusnya yang diakhiri dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio. Demikian juga tortor/gerakan yang dilakonkan akan berbeda sesuai dengan irama dari gondang yang dibunyikan oleh Pargonsi (Pemusik).

Sementara perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok tortor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang. Bagaimanapun juga, tortor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Dalam tortor Batak terdapat nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.

Gerak tari sebagai bagian dari seni budaya merupakan refleksi dan perwujudan dari sikap, sifat, perilaku dan perlakuan serta pengalaman hidup masyarakat itu sendiri. Dalam tarian tergambar cita rasa, daya cipta dan karsa dari sekelompok orang-orang. Tortor Batak selalu diiringi oleh musik tradisional gondang sabangunan. Tortor Batak juga menggambarkan pengalaman hidup orang Batak dalam kehidupan keseharian, gembira/senang, merenung, berdoa/menyembah, menangis, bahkan keinginan-cita-cita dan harapan dan lain sebagainya dapat tergambar dalam Tortor Batak.

Sumber : http://www.gobatak.com/dibalik-makna-gondang-tortor-bagi-suku-batak/

Sejarah Lahirnya Kekristenan di Tanah Batak (Nommensen)

Berbicara mengenai tanah Batak dan sisi religius yang ada di dalamnya, tentu sangat erat kaiatanya dengan seorang kebangsaan Jerman yang menjadi Apostel di tanah Batak, beliau adalah Dr Ingwer Ludwig Nommensen.
“Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin” (Dr Ingwer Ludwig Nommensen)
Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”?
Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu dalam melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.
Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.
Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun. Di masa muda Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.
Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Konon, animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.
Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Konon, pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian dari kesederhanaan
Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.
Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul dan ia pun sembuh.
Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Akhirnya, ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.
Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.

Dari Norsdtrand ke Silindung
Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Bangsa Belanda).
Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr H N Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak. Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.
Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.
Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.
Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.
Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.
Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Aman Dari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.
Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun batal melanjutkan perjalanan dan memutuskan agar kembali ke Silindung.
Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.
Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.
Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.
Misi zending tak berhenti sampai di sana, Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.

Zending inkulturatif
Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman.
Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada.
Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.
Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur.
Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.
Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.
Tercatat pula bahwa sejak tahun 1862 Nommesensen telah mendirikan gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar, Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Pansur Napitu, Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1914 di Ambarita; 1921 di Medan; dan 1922 di Jakarta.
Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.
Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.
Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen
Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.
Kini, Nommensen telah tiada, tapi karyanya tetap hidup. Ia telah menabur benih-benih cinta kasih sepanjang misinya untuk kita (Batak). Dan, sudahkah kita menuai buah cinta kasihnya itu kini? Semoga…

Sumber : Harian Global & Tonggo Press

Lappet dan Ombus-Ombus

Tiap daerah biasanya punya penganan khas tradisional. Meski pun Medan memiliki penganan khas Bika Ambon, namun masih ada kue tradisional Batak yang hingga kini tetap disukai yaitu lappet dan ombus-ombus.
Bila anda orang Batak, pastilah mendengar kata lappet & ombus-ombus sudah langsung tergiur & apabila anda bukan berasal dari Batak, saya bermaksud mengenalkan kue tradisional asal tanah Batak ini kepada anda semua yang saya jamin tidak kalah enak dengan kue-kue zaman sekarang. Hehe. Lappet dan ombus-ombus adalah kue tradisional Batak. Tak jelas sejak kapan penganan ini mulai “membudaya”. Namun pada acara seremonial adat Batak tertentu, biasanya lappet atau ombus-ombus tetap menjadi hidangan sela dibarengi kopi atau teh.
Lappet dan ombus-ombus adalah dua jenis penganan yang berbeda. Namun keduanya terbuat dari bahan yang sama: tepung beras, kelapa, gula merah (aren). Namun untuk lappet performanya tak jauh beda dengan lepat pisang. Tetapi rasa dan bahannya jelas beda.
Perbedaan antara lappet dan ombus-ombus ada pada bentuk olahan dan rasa. Lapet biasanya dibentuk menyerupai limas dan dibungkus daun pisang. “Sementara Ombus-ombus, bentuknya bulat dan tidak dibungkus dengan apapun,” kata B Hutabarat salah satu penjual lapet dan ombus-ombus selama puluhan tahun.
Proses pembuatannya sendiri tidak begitu rumit, dimulai dari tepung beras, kelapa parut (jangan terlalu tua), dicampur. Menyusul parutan gula aren, dan air secukupnya. Setelah merata seluruh adonan, kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Sama halnya dengan lappet, Ombus-ombus terdiri dari bahan sama, namun penampilan proses akhir berbeda. Ombus-ombus tidak dibungkus dengan daun, hanya dibentuk sebesar bulatan bola golf, sudah langsung dapat dikukus.
Kue tradisional ini lebih enak dinikmati jika panas-panas dan disajikan sebagai makanan pelengkap minum teh atau kopi. Soal rasa tak perlu ditanya. Bagi yang pernah mencicipnya mungkin akan punya pendapat yang berbeda. Tetapi paduan tepung beras dan gula aren akan memberika cita rasa yang unik.
Namun lappet dan ombus-ombus ini kurang populer sebagai dagangan. Jika ingin mendapat rasa yang asli boleh membeli di Siborong-borong. Karena ombus-ombus yang terkenal memang di Siborong-borong. Tetapi di Medan juga kedua kue ini sudah beredar. Biasanya dipesan langsung dengan pembuatnya atau dijual secara berkeliling pada masa tertentu. Terkadang di daerah pasar sentral Sambu ada juga penjual penganan ini.

Sumber : (Eva Simanjuntak/Yeni Kurniawi) Harian Global, Medan