Membangun Ekonomi Indonesia Dengan Pembangunan Kalimantan

Senin, 25 April 2011

Tema : Pembangunan Daerah

Untuk memperjelas tulisan saya, maka saya akan membahas satu persatu kata yang terdapat pada judul tulisan saya diatas. Yang pertama mengenai pembangunan ekonomi. Tentunya kata pembangunan ekonomi sangat berbeda maknanya dengan kata pembangunan Kalimantan pada judul diatas. Yang dimaksud dengan pembangunan ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya. Atau dapat juga diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu negara meningkat dalam jangka panjang. Sedangkan kata “pembangunan” kalimantan dapat diartikan semata-mata kegiatan-kegiatan untuk mendirikan atau menciptakan berbagai sarana dan prasarana maupun infrastruktur lainya di daerah tertentu (dalam hal ini Kalimantan).

Mengapa saya mengambil contoh Pulau Kalimantan dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia yang sama-sama kita ketahui juga memiliki potensi kekayaan alam. Alasanya saya adalah sederhana yaitu karena Kalimantan sebenarnya adalah pusat kekuatan ekonomi negara Indonesia, bahkan banyak negara-negara asing (investor) yang sangat tertarik dengan Kalimantan. Hanya saja pemerintah Indonesia kurang menyadari eksistensi Kalimantan yang sangat berpotensi ini sehingga dapat diibaratkan bahwa Kalimantan adalah Raksasa yang sedang tertidur. Kalimantan atau Borneo adalah raksasa yang bukan saja sedang tidur, melainkan tidurnya sudah cukup berkepanjangan. Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia (dua per tiga) dan Malaysia (sepertiga). Menyadari potensi raksasa Kalimantan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menekankan strategi pembangunan yang berbasis kewilayahan. Untuk lima tahun ke depan, Presiden mendorong pengembangan sentra-sentra ekonomi baru di Kalimantan, sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa-Bali. Dengan karakter yang begitu beragam, Presiden SBY dan pemerintah setempat ingin mendorong percepatan pembangunan dengan beragam pendekatan. Pemerintah ingin mengkonsolidasi kembali pengembangan kawasan potensial dan strategis berupa kebijakan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), maupun konsep koridor ekonomi wilayah yang kini sedang digodok Pemerintah.

Sejalan itu, Pemerintah juga berkomitmen untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan, kawasan tertinggal, dan terpencil yang tersebar di berbagai pelosok pulau Kalimantan. Pendekatan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan harus diwujudkan secara terpadu. Pertumbuhan, pemerataan, dan berkelanjutan merupakan prinsip utama yang saling berkaitan tanpa menegasi satu dengan lain. Kita menyadari Kalimantan adalah pulau Seribu Sungai. Ada empat besar daerah aliran sungai (DAS) di Kalimantan, yaitu Barito, Kahayan, Mahakam dan Kapuas. Dari empat sungai besar ini, terdapat banyak pecahan sungai (sub-DAS). Sungai-sungai itu merupakan urat nadi perekonomian Kalimantan. Keberadaan DAS belum dioptimalkan untuk sektor energi, pertanian maupun air bersih bagi kota-kota besar di Kalimantan. Hal ini diperparah dengan kondisi infrastruktur wilayah yang sangat minim. Menurut studi Bappenas 2009, infrastruktur Kalimantan, baik jumlah maupun mutu, termasuk yang paling rendah di Indonesia. Interkoneksi antarkawasan di Kalimantan tidak selancar hubungan daerah-daerah di Kalimantan dengan pulau Jawa atau pulau Sulawesi.

Potensi sumber daya alam Kalimantan meliputi pertambangan, kehutanan, pertanian dan perkebunan, serta perikanan dan kelautan. Kalimantan memiliki komoditas unggulan yang berdaya saing tinggi, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Komoditas unggulan itu diantaranya ;

1) Minyak, gas bumi, dan batu bara yang terpusat di Provinsi Kalimantan Timur,
2) Kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,
3) Karet di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, dan
4) Perikanan dan kelautan, dengan perikanan tangkap dan budi daya laut di Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Kontribusi perekonomian Kalimantan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional cukup tinggi dibandingkan pulau lain di tanah air. Tetapi raksasa Kalimantan masih terus tertidur pulas. Dalam beberapa pengamatan, rakyat kita di daerah perbatasan sangat tergantung dengan ekonomi Malaysia. Uang rupiah selalu jatuh ke wilayah Malaysia, termasuk harga diri kita. Satu-satunya jalan adalah membangunkan raksasa yang sedang tidur itu dengan reorientasi kebijakan yang lebih tepat. Potensi Kalimantan itu membuat kegiatan investasi berorientasi di sektor pangan dan energi yang berpusat di beberapa kawasan saja. Akibatnya penduduk di kawasan lain di Kalimantan meninggalkan daerahnya dan bermigrasi ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dominan tersebut. Persoalan sosial seperti ketimpangan sosial harus menjadi perhatian kita semua. Harapannya, pembangunan Kalimantan juga harus mengembangkan masyarakat asli dan merawat kearifan lokal mereka.

Saat ini raksasa Kalimantan harus dibangunkan dari tidurnya. Tidak sebatas pangan dan energi tetapi juga pariwisata dan menjadi paru-paru dunia di saat ketakutan atas ancaman pemanasan global yang semakin meningkat. Gagasan tentang Hearth of Borneo (HOB) tahun 2005 sebagai cikal bakal Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan harus dihidupkan kembali. Tata ruang tersebut memuat pola pemanfaatan ruang berupa kawasan lindung, kawasan konservasi (Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Buru, taman Hutan Raya, Taman Nasional, Taman Wisata) dan kawasan budidaya (Kawasan produksi pangan, kawasan produksi perkebunan, kawasan perkotaan, kawasan pertambangan dan hutan produksi).

Hal ini dalam rangka mengarahkan pengembangan wilayah Kalimantan secara terpadu sebagai kesatuan kegiatan sosial, ekonomi dan budaya dengan memperhatikan potensi, karakteristik dan daya dukung lingkungannya. Gagasan menciptakan keseimbangan pemanfaatan ruang antara kawasan berfungi lindung dan budidaya dalam satu ekosistem pulau dan perairannya mendorong pembangunan Kalimantan akan mengarah ke kawasan pesir dan perairan. Ke depan, kita semua harus optimis dalam membangun raksasa Kalimantan. Kebersamaan antara pelbagai pelaku pembangunan mutlak dibutuhkan, baik antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Kebersamaan ini kita wujudkan dalam kesatuan perencanaan wilayah Kalimantan yang terpadu, baik dari sisi tata ruang, perencanaan wilayah, dan koordinasi antarlembaga. Dengan letak yang strategis di utara Indonesia, pulau Kalimantan adalah kekuatan strategis Indonesia kini dan masa depan.


Kesimpulan Dan Saran

Kalimantan adalah pulau yang terbesar di Indonesia dan menjadi pulau terbesar nomor tiga di dunia. Potensi yang dimiliki pulau Kalimantan juga sangatlah beragam diantaranya; perkebunan, pertanian, perikanan, kelautan, pertambangan, gas dan non migas dan lainya. Selain itu kondisi alam Kalimantan yang banyak terdapat hutan-hutan sungai-sungai besar membuat banyak sekali flora dan fauna yang tinggal didalamya, bahkan diantara fauna-fauna yang ada di Kalimantan ada yang termasuk hewan yang dilindungi negara karena populasinya yang hampir punah. Hal-hal tersebut diatas tentu jelas menggambrakan bahwa pulau Kalimantan adalah asset yang sangat berharga, tidak hanya bagi negara Indonesia tapi juga pada dunia ini.

Saran saya adalah pemerintah harus memperhatikan pulau Kalimantan ini dengan lebih serius lagi karena sudah cukup lama pulau Kalimantan ini tertidur (tidak dimanfaatkan). Pemerintah harus bisa memanfaakan asset yang ada ini (Kalimantan) dengan cara melakukan pembangunan-pembangunan baik berupa sarana dan prasara maupun infrastruktur yang ada. Dan yang paling penting pemerintah juga harus bisa bersikap tegas terhadap siapapun yang ingin menguasai kekayaan pulau ini secara sepihak dan juga para negara-negara pencuri pulau yang lainya.

0 komentar:

Posting Komentar