DampakTransformasi Industri Bagi Perekonomian Indonesia

Minggu, 29 Mei 2011

TEMA : Transformasi Industri

A. Latar belakang

”Realitas tidaklah statis” sepertinya filosofi tersebut memang terbukti kebenaranya. Waktu terus berlalu dan dari zaman ke zaman akan selalu terjadi perubahan. Memasuki Dunia Modern berarti melibatkan diri dalam situasi hidup dan situasi kerja yang secara fundamental berbeda dengan apa yang pernah dialami dalam lingkungan sebelumnya. Sejalan dengan perubahan tersebut, struktur perekonomian Indonesia juga mengalami perubahan dalam dirinya menuju taraf kedewasaan, untuk menjawab tantangan ini dibutuhkan perubahan dari cara mentransformasikan struktural perekonomian yang ada di Indonesia. Berhasil tidaknya apabila adanya transformasi atau perubahan dalam struktur perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari hasil yang pernah didapat sebelum adanya tranformasi atau adanya perubahan tersebut.

B. Struktural tranformasi pada perekonomian Indonesia
Transformasi struktural merupakan persyaratan dari peningkatan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang artinya titik balik untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenagakerja, sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih cepat, agro industri atau industri manufaktur. Apabila transformasi kurang seimbang dikhawatirkan akan terjadi proses pemiskinan dan eksploitasi sumber daya manusia pada sektor primer .
Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan :

• Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian).
• Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri).
• Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusunya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Dalam menganalisis struktur ekonomi terdapat dua teori utama, yaitu teori Arthur Lewis (Teori Migrasi) dan Hpllins Chenery (Teori Tranformasi Struktural). Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang di dominasi sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Di pedesaan, pertumbuhan penduduknya tinggi sehingga terjadi kelebihan suplai tenaga kerja, akibat over supply tenaga kerja ini, tingkat upah menjadi sangat rendah. Sebaliknya, di perkotaan, sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Hal ini menarik banyak tenaga kerja pindah dari sektor pertama ke sektor kedua sehingga terjadi suatu proses migrasi dan urbanisasi. Selain itu, tingkat pendapatan di negara bersangkutan meningkat sehingga masyarakat cenderung mengkonsumsi macam-macam produk industri dan jasa. Hal ini menjadi moto utama pertumbuhan output di sektor-sektor nonpertanian.
Teori chenery memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di suatu negara yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagi mesin utama pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi yaitu :

a. Kondisi dan Struktur awal ekonomi dalam negeri.
Suatu negara yang pada awal pembangunan ekonomi sudah memiliki industri-industri dasar yang relatif kuat akan mengalami proses industrialisasi yang lebih pesat.
b. Besarnya pasar dalam negeri.
Pasar dalam negeri yang besar merupakan salah satu faktor insentif bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi, termasuk industri, karena menjamin adanya skala ekomonis dan efisiensi dalam proses produksi.


c. Pola distribusi Pendapatan.
Pola ini merupakan faktor pendukung dari faktor pasar. Tingkat pendapatan tidaklah berarti bagi pertumbuhan industri-industri bila distribusinya sangant pincang.
d. Karakteristik Industrialisasi.
Hal ini mencakup cara pelaksanaan atau strategi pembangunan industri yang diterapkan, jenis industri yang diunggulkan,pola pembangunan industri, dan insentif yang diberikan.
e. Keberadaan Sumber Daya Alam.
Adanya kecenderungan bahwa negara yang kaya Sumber Daya Alam mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, terlambat melakukan industrialisasi, tidak berhasil melakukan diversifikasi ekonomi (perubahan struktur) daripada negara yang miskin Sumber Daya Alam.
f. Kebijakan Perdagangan Luar Negeri.
Negara yang menerapkan kebijakan ekonomi tertutup (inward looking policy), pola hasil industrialisasinya akan berkembang tidak efisien dibandingkan negara-negara yang menerapkan outward looking policy.

Berikut ini adalah kasus-kasus transformasi yang pernah terjadi di Indonesia.

 Perubahan struktur ekonomi boleh dikatakan cukup pesat. Periode sejak tahun1983 hingga krisis ekonomi peran sektor-sektor primer cenderung menurun sedangkan sektor sekunder (seperti industri manufaktur, listrik, gas dan air, serta konstruksi) dan sektor tersier (perdagangan, hotel, dan restoran, transport & komunikasi, bank & keuangan, dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainya) terus meningkat.
 Pada sektor pertanian sendiri juga telahterjadi perubahan struktur ekonomi antar subsektor yang tidak seimbang dengan perubahan struktur pangsa penyerapan tenaga kerja. Beban penumpukan tenaga kerja yang terjadi saat ini pada sektor pertanian tidak terdistribusi dengan merata pada masing-masing subsektor, dimana hampir semuanya ditanggung subsektor tanaman pangan sehingga kondisi keluarga petani tanaman pangan semakin memprihatinkan. Pengembangaan teknologi pertanian terutama pada daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja sebaiknya diarahkan pada inovasi teknologi sarat tenaga kerja, sehingga masalah kelebihan tenaga kerja tersebut dapat dikurangi.
 Secara umum telah terjadi perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, terbukti komposisi penduduk dengan pendidikan setara, pendidikan setara pendidikan menengah ke atas semakin besar,sebaliknya komposisi penduduk dengan tingkat pendidikan sekolah dasar ke bawah berkurang. Namun, perbaikan kuailitassumber daya manusia tersebut tidak diikuti oleh adanya kemampuan dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan kesempatan kerja sesuai dengan kualifikasi dari perbaikan kualitas sumber daya manusia tersebut.

Kesimpulan :

Perubahan memang akan selalu terjadi seiring dengan berjalanya waktu, karena realitas tidaklah statis. Transformasi di bidang industri merupakan wujud nyata dari perubahan tersebut dan mau tidak mau hal ini harus diterima dan dialami oleh setiap negara di dunia termasuk Indonesia. Transformasi struktural perekonomian di Indonesia merupakan persyaratan dari peningkatan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang artinya titik balik untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenaga kerja, sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih cepat, agro industri atau industri manufaktur.

Saran :

Sejalan dengan perkembangan zaman dan perubahan struktural, Pemerintah harus mengadakan restrukturisasi industri di Indonesia yang mengarah pada kesesuaian dengan kualitas dan kualifikasi tenaga kerja yang ada sekarang. Sebaliknya, jenis pendidikan yang harus dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, khususnya tenaga kerja pada sektor industri. Untuk mengatasi terjadinya penumpukan tenaga kerja di sektor pertanian yang pada umumnya berada di daerah pedesaan dapat dilakukan melaui pengembangan industri berbasis pedeseaan, dengan harapan di satu sisi mampu menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut, dan disisi lain mampu mendatangkan nilai tambah bagi produk pertanian. Sehingga pada akhirnya proses percepatan pemiskinan di sektor pertanian bisa diperlambat.

0 komentar:

Posting Komentar