Sejatinya setiap manusia yang terlahir ke dunia pasti memiliki seorang ayah. Ayah dipandang sebagai sosok yang tegar, kuat dan berani dalam menjaga dan melindungi anak dan keluarganya, walaupun pada kenyataanya banyak juga sosok seorang ayah yang menganiayaya istri dan anaknya, atau bahkan mentelantarkannya. Dan saya bersyukur kepada Tuhan karena kedua sifat tersebut tidak ada dalam diri ayah saya. Seperti yang telah saya sampaikan diatas bahwa pasti ada banyak sekali definisi atau pandangan mengenai sosok seorang ayah yang berbeda-beda, tergantung dari setiap orang yang mendifinisikannya. Dan bila saya diminta untuk mendefinisikan sosok seorang ayah, maka definisi versi saya adalah “ Ayahku adalah Inspirasiku”. Sangat pendek untuk sebuah definisi, Ya memang karena saya bukan seorang ahli teori yang mampu merangkai kata-kata dengan baik. Mungkin bagi sebagian orang, definisi saya terlau kaku, berlebihan, (lebay) atau apapun itu, saya tetap menghargainya. Akan tetapi, saya memiliki alasan atau dasar dari definisi saya menegnai sosok seorang ayah diatas dan oleh karenanya pada tulisan ini, saya akan mencoba menjelaskan alasan saya melalui kisah kehidupan nyata ayah saya yang telah banyak menginspirasi saya.
Kisah inspirasi dimulai dari kehidupan Ayah saya yang hanya merupakan seorang pemuda sederhana dari kampung yang mencoba mencari kehidupan yang lebih baik di tanah rantau (awalnya Jakarta) sekitar tahun 1970an. Awalnya, ayah kuliah di jurusan perikanan di salah satu akademi swasta di Jakarta. Setelah menyelesaikan kuliah D3 akademi perikanan, ayah pun mulai mencari-cari pekerjaan demi bertahan hidup di tanah rantau. Akan tetapi pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan latar belakang pendidikan pun tidak didapat. Mensisasati keadaan tersebut pun, ayah tidak tinggal diam saja. Dengan segala keberanian dan kemampuan yang ayah miliki saat itu, akhirnya tanpa rasa malu ayah pun mulai melakoni pekerjaan-pekerjaan serabutan seperti ; tukang koran, tukang foto, dan lain sebagainya. Singkat cerita sampai pada suatu waktu ayah pun bertemu dengan ibu dan menikah pada tahun 1981 dan dikaruniai 4 orang anak termasuk saya sebagai anak terakhir (bontot).
Perlu saya katakan disini bahwa ayah saya bukanlah seorang pengusaha kaya raya yang sukses atau pejabat-pejabat tingi negeri yang memiliki penghasilan puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Akan tetapi ayah saya hanyalah seorang pegawai proyek panggilan yang bekerja berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia. Itu artinya ayah harus terpisah dengan keluarganya dalam waktu yang lama karena pekerjaanya yang selalu berpindah-pindah dan tentu bagi ayah manapun kehidupan seperti ini tidaklah mudah untuk dijalani bahkan untuk saya pribadi pun sulit. Berpuluh-puluh tahun lamanya ayah menjalani kehidupannya terpisah dari istri dan anak-anaknya, masuk keluar hutan-hutan Indonesia timur yang ganas hanya untuk memberikan bekal yang terbaik bagi kehidupan anak-anaknya.
Tidak hanya itu, ketika tidak ada proyek yang bisa di kerjakan, ayah pun rela untuk melakoni pekerjaan serabutan seperti, kernet, buruh bangunan dan lain-linnya. Ayah saya selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah prioritas utama baginya untuk anak-anaknya karena hanya pendidikan dan ilmu pengetahuan lah yang tetap dibawa manusia sampai ke liang kubur. Oleh karenanya pekerjaan apapun dan dimanapun yang halal rela dilakoni ayah demi prioritasnya tersebut. Puji Tuhan, kini kedua abang saya pun dapat menggapai gelar Sarjananya. Dan tidak sampai disitu saja, di umur ayah yang mulai senja (57 tahun) pun, ambisi dan tekadnya sedikitpun belum surut untuk juga meyekolahkan saya dan kaka saya dalam menggapai gelar Sarjana. Sampai detik ini ayah masih bekerja serabutan di proyek-proyek yang ada di Papua. Ganasnya alam Papua dan kerasnya kehidupan disanapun tidak lagi dihiraukannya demi sebuah janji yang telah terpatri dalam hati, bahwa saya dan kaka saya pun minimal harus menjadi seorang Sarjana. Inilah yang menjadi alasan saya mengapa saya menganggap ayah saya sebagai sosok yang menginspirasi saya. Perjuangan dan pengorbanan yang senantiasa ditunjukan ayah telah mengajarkan saya banyak hal dalam hidup ini. Tidak hanya itu, kesetiaannya terhadap prinsip yang dipegangya pun menjgajarkan saya untuk menjadi laki-laki yang pantang menyerah dalam menggapai segala asa dan mimpi-mimpi yang ada. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan sosok seorang ayah yang menginspirasi saya, sehingga saya bisa belajar banyak darinya. Saya juga selalu berharap agar kiranya Tuhan senantiasa menjaga dan menyertai ayah dari ganasnya alam dan kerasnya kehidupan di Papua. AMIN
skip to main |
skip to sidebar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
| © 2010 Sekedar Corat-coret |Blogger Template by BloggerTheme
2 komentar:
like this :)
sungguh..
follow blog saya juga ya teman
htt://tarisukandi.blogspot.com/
terimakasih
Ebeh luar biasah :*
Posting Komentar