Prabu Sanatanu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh pewayangan di Indonesia yang namanya cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia, khusunya masyarakat Indonesia yang tinggal di Bali dan Jawa Tengah. Dalam wiracarita Mahabharata Prabu Santanu dikenal juga sebagai salah satu tokoh Protagonis. Ia adalah putera raja Pratipa dari trah Candrawangsa, keturunan Maharaja Kuru, yang memiliki tegal bernama Kurukhsetra yang terletak di India Utara yang juga akhirnya juga menurunkan kelauarga Pandawa dan Korawa. Santanu berasal dari kata çanta yang berarti tenang, sebab Prabu Pratipa dalam keadaan tenang pada saat putranya lahir. Pada saat ayahnya hendak pensiun, kakaknya Dewapi dan Bahlika menolak mewarisi tahta. Dewapi memutuskan untuk hidup sebagai pertapa demi menemukan kedamaian, sementara Bahlika memutuskan untuk pergi berkelanan ke India Barat. Maka dari itu, Prabu Santanu menggantikan posisi ayahnya, Raja Pratipa, sebagai raja di Hastinapura.
Untuk membahas mengenai sifat atau karakter seorang tokoh pewayangan dalam hal ini Prabu Santanu, otomatis kita juga harus membahas sejarah dan fakta yang melekat pada kehidupan nyatanya (yang dikisahkan). Dikisahkan pada suatu waktu Prabu Santanu berburu ke tepi sungai Gangga, lalu ia bertemu dengan wanita yang sangat cantik dan tubuhnya sangat indah. Wanita tersebut adalah Dewi Gangga (dalam tradisi Jawa disebut "Jahnawi"). Ia kena kutuk Dewa Brahma untuk turun ke bumi dan menjadi pasangan keturunan Raja Kuru. Karena terpikat oleh kecantikannya, Prabu Santanu merasa jatuh cinta. Dewi Gangga pun bersedia menjadi permaisurinya dengan syarat bahwa apapun yang ia lakukan terhadap anaknya, Prabu Santanu tidak boleh melarangnya. Jika Prabu Santanu melanggar janjinya, maka Dewi Gangga akan meninggalkannya. Karena perasaan cinta yang meluap-luap, maka syarat tersebut dipenuhinya.
Setelah menikah, Dewi Gangga mengandung putranya yang pertama. Namun tak lama setelah anak tersebut lahir, ibunya segera menenggelamkannya ke sungai Gangga. Begitu pula pada para puternya yang selanjutnya, semua mengalami nasib yang sama. Sang raja mengetahui hal tersebut karena selalu membuntuti istrinya, namun ia tak kuasa mencegah karena terikat akan janji pernikahannya. Ketika Sang Dewi mengandung putranya yang kedelapan, Prabu Santanu tak tahan lagi. Lalu ia menghentikan perbuatan permaisurinya yang ia anggap sebagai perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan.
Dewi Gangga menghentikan perbuatannya lalu menjelaskan bahwa putra-putra yang ia lahirkan merupakan inkarnasi dari Astabasu atau delapan Wasu. Tindakannya menenggelamkan bayi-bayi tersebut adalah untuk melepaskan jiwa mereka agar mencapai surga, kediaman para Wasu. Konon, delapan Wasu tersebut pernah mencuri lembu sakti miliki Resi Wasista. Karena ketahuan, mereka dikutuk oleh Resi Wasista supaya kekuatan Dewata mereka hilang dan menjelma sebagai manusia. Salah satu dari delapan Wasu tersebut bernama Prabata yang merupakan pemimpin daripada rencana pencurian tersebut. Karena ia merupakan pelaku utama dan ketujuh Wasu lainnya hanya ikut membantu, maka Prabata yang menjelma paling lama sebagai manusia. Kelak Prabata menjelma sebagai seorang manusia sakti yang bernama Dewabrata. Setelah menjelaskan hal tersebut kepada Prabu Santanu, Dewi Gangga yang masih mengandung lenyap di sungai Gangga.
Dari uraian penggalan kisah hidup Prabu Santanu, maka dapat digambarkan atau disimpulkan bahwa Prabu Santanu memang memiliki sifat-sifat (karakter) protagonis sesuai yang dikisahkan juga dalam wiracarita Mahabharata. Sifat-sifat (karakter) tersebut saya simpulkan antara lain sebagai berikut ;
•Dikisahkan bahwa Prabu Santanu senang pergi berburu ke hutan dan juga ke sungai. Hal ini dapat juga diartikan bahwa Prabu Santanu memiliki sifat rendah hati dan pekerja keras. Walaupun Prabu Santanu adalah seorang raja yang seharusnya duduk manis dalam bangku kerajaan dan hidup dilayani, tetapi ia tetap mau juga dan tidak malu atau gengsi untuk pergi berburu ke hutan yang biasanya dikerjakan oleh warga biasa.
•Dikisahkan bahwa Prabu Santanu memenuhi syarat pernikahannya yang diajukan oleh Dewi Gangga dan setia memegang atau mematuhi persyaratan tersebut dalam setiap kondisi dan keadaan. Jelas hal ini menggambarkan kita semua bahwa Prabu Santanu adalah seorang yang betanggung jawab dengan apa yang ia janjikan (katakan).
•Dikisahkan bahwa Prabu Santanu menghentikan perbuatan permaisurinya yang ia anggap sebagai perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan. Disini jelas bahwa Prabu Santanu menentang segala bentuk perbuatan biadab dan tak berperikemanusiaan. Walaupun perbuatan tersebut dilakukan oleh Dewi Gangga yang tidak lain adalah istri dari Prabu Santanu. Selain itu, kita juga dapat melihat bahwa Prabu Santanu juga memiliki sikap tegas dan berani menanggung risiko demi kebenaran dan rasa kemanusiaan. Hal tersebut terbukti bahwa setelah Prabu Santanu menentang perbuatan yang dianggapnya biadab dan tidak berperikemanusiaan istrinya tersebut, maka seketika pun Dewi Gangga lenyap di sungai Gangga. Akhirnya Prabu Santanu pun harus hidup sendiri dalam memerintah di kerajaan Hastinapura selama 16 tahun lamanya.
Setelah menyimpulkan sifat-sifat (karakter) protagonis yang terdapat pada Prabu Santanu seperti uraian diatas, maka saya juga berpendapat bahwa sifat-sifat (karakter) Prabu Santanu tersebut bisa disejajarkan dengan karakter yang juga dimiliki oleh salah satu tokoh pemerintahan Indonesia yaitu Joko Widodo, bupati Solo. Mengapa saya beranggapan demikian? Dari sifat-sifat atau karakter dari Prabu Santanu yang telah dijabarkan diatas ternyata memiliki kemiripan dengan sifat-sifat atau karakter dari Joko Widodo. Contohnya saja, yang pertama kita tahu melalui media-media massa dan juga pengakuan dari warga Solo sendiri bahwa Joko Widodo adalah seorang yang rendah hati. Itu terbukti bahwa Joko Widodo lebih banyak menghabiskan waktunya (pekerjaanya) di lapangan daripada duduk-duduk manis di kantornya, walaupun sebenarnya tidak ada salahnya kalau ia berbuat demikian. Yang kedua Joko Widodo merupakan sosok yang bertanggung jawab atas jabatannya. Hal tersebut terbukti bahwa Joko Widodo cukup memperhatikan kesejahteraan warganya melalui banyak cara, dan sampai saat ini fakta yang ada tidak pernah menyebutkan bahwa Joko Widodo terlibat korupsi atau suap, yang artinya melanggar sumpah jabatannya. Yang ketiga Joko Widodo adalah sosok yang cukup berani dan tegas dalam memperjuangkan rasa kemanusiaanya terhadap wargannya. Hal tersebut terbukti dari berita yang akhir-akhir marak diberitakan media massa bahwa Joko Widodo mendukung kreativitas warganya dalam hal ini mobil buatan siswa-siwa SMK yang dipakainya menjadi mobil dinasnnya. Walaupun sempat terjadi controversial atau perbedaan pendapat antara Joko Widodo dengan Gubernur Jawa Tengah yang ketika itu tidak setuju dengan adanya mobil SMK dengan berbagai alasan, tapi Joko Widodo tetap terus mendukung kreativitas warganya tersebut untuk memproduksi mobil SMK.
skip to main |
skip to sidebar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
| © 2010 Sekedar Corat-coret |Blogger Template by BloggerTheme
0 komentar:
Posting Komentar