Kisah Tragis Indiana Jones dari Lebak Banten

Selasa, 24 April 2012

Sebagian besar dari kita mungkin mengetahui sebuah film aksi yang berjudul “Indiana Jones” dari benua Amerika. Bagian yang paling diingat dari film tersebut adalah ketika seorang pria yang berusaha menyeberangi sebuah jembatan yang sudah usang dengan aksinya yang memukau. Aksi memukau di film tersebut ternyata bisa kita saksikan secara nyata di Bumi Indonesia, lebih tepatnya Banten. Bila di film Indiana Jones penonton menikmati aksi dari seorang pria yang menyeberangi jembatan using, lain halnnya dengan kisah tragis “Indiana Jones” dari anak-anak sekolah di Lebak Banten. Kisah tragis tersebut dimulai dari berharap akan adanya perubahan, Banten akhirnya resmi memisahkan diri dari Propinsi Jawa Barat pada tanggal 17 Oktober 2000. Dari mulai Gubernur pertama Propinsi Banten Joko Munandar yang akhirnya di copot jabatannya karena terkait kasus korupsi, maka di tunjuklah Ratu Atut Chosiyah Wakil Gubernur Banten sebagai Pelaksana tugas Gubernur Banten, sebagai pelaksana tugas Ratu Atut mendapat tugas untuk mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah tahun 2006. Akhirnya Pilkada 2006 terlaksana, hingga pada tanggal 6 Desember 2006 Komisi Pemilihan Umum Propinsi Banten menetapkan Ratu Atut Chosiyah dan Mohammad Masduki sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi Banten 2006 s/d 2011.

Pada pencalonannya yang kedua tahun 2011 Ratu Atut Chosiyah tampil kembali bersama Rano Karno dengan di dukung oleh koalisi besar dengan slogan “Koalisi Bersama teruskan Pembangunan Banten“ dengan congkaknya mereka berkata bahwa ini menjadi sejarah bagi perpolitikan di Banten sebagai koalisi terbesar sepanjang sejarah. Tapi apa yang terjadi kemudian dengan Propinsi Banten? Rupanya slogan mereka tidak sesuai dengan realita yang berkembang di Banten. Dunia Maya Indonesia dan Internasional geger dengan adanya pernyataan kapten kesebelasan liga Inggris Manchester City bernama Vincent Kompany yang mengatakan “anak-anak Indonesia mengambil resiko dengan hidupnya saat meniti jembatan menuju sekolah” tulis Kompany di akun twitternya @VincentKompany, pernyataan Kompany ini di ketahui lantaran memang foto jembatan di Kabupaten lebak Propinsi Banten itu telah beredar di situs berita mancanegara. Sampai pada akhirnya koran Inggris Daily Mail memberitakan perjuangan anak-anak sekolah menyeberangi jembatan gantung seperti aksi sebuah film berjudul Indiana Jones, malah aksi anak-anak sekolah ini lebih berbahaya daripada aksi layar lebar Indiana Jones, anak sekolah dan warga Desa Sanghiang, Lebak, Banten melakukannya setiap hari di dunia nyata, tanpa tali penolong maupun peran pengganti. Bisa kita bayangkan perjuangan anak-anak sekolah dasar yang masih berumur dibawah belasan tahun yang harus menantang maut setiap hari demi menimba ilmu di sekolah mereka. Ancaman demi ancaman dari ganasnya air sungai yang setiap saat menyertai perjalanan mereka ke sekolah tentu sangat tidak sebanding dengan kekuatan mereka di usia yang masih dini. Tangan-tangan kecil mereka yang lemah sudah harus dituntut untuk berpenganngan pada tali-tali jembatan yang rapuh. Sungguh, kenyataan yang sangat tragis. Yang lebih miris lagi adalah perhatian yang lebih besar terhadap kondisi jembatan tersebut justru datang dari dunia Internasional. Lalu dimanakah kita semua ? dimanakah peranan pemerintah secara khusus pemda Banten?

’’Popularitas’’ jembatan gantung yang hampir ambruk akibat luapan sungai Ciberang di Lebak, Banten, benar-benar sudah mendunia. Setelah kapten klub sepakbola Manchester City, Vincent Kompany, mengkritik kondisi jembatan tersebut lewat jejaring sosial twitter, kini giliran warga di Austria angkat bicara. Itu terjadi setelah salah satu surat kabar dengan oplah terbesar di negara berpenduduk 8,4 juta jiwa tersebut menerbitkan gambar miris kondisi jembatan tersebut dengan judul “Perjalanan ke Sekolah Paling Berbahaya di Dunia”. Anak-anak Indonesia sempat di juluki anak-anak pemberani. Melihat fakta yang memalukan Indonesia di dunia Internasional ini, lalu apakah langkah selanjutnya yang dapat diambil oleh pemerintah dan rakyat Indonesia? Dan lagi-lagi warga Lebak Banten harus menelan “pil pahit” karena kisah tragis mereka tidak berhenti sampai disitu. Tingkah laku oknum DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia) Propinsi Banten yang memfasilitasi diri dengan Fasilitas Ruang Karaoke bagi Anggota DPRD, sangat ironis dan tidak mencerminkan kepedulian kepada rakyat, oknum DPRD Propinsi Banten telah mempertontonkan kepada publik sebuah aksi kemewahan di balik penderitaan rakyat. DPRD . Kalau sudah begini, siapakah yang akan menjadi harapan warga Lebak Banten untuk kelangsungan hidup mereka di negeri ini? Dan masih adakah nurani di hati kita semua untuk mereka ?





0 komentar:

Posting Komentar