Kesenjangan Sosial

Rabu, 16 Februari 2011

“Saya butuh bertahan hidup” jawab singkat sang kakek yang kira-kira berusia 70 tahunan ketika seorang wartawan swasta menanyakan kepadanya mengapa sang kake harus berburu tikus got dan rela memakanya. Ini menunjukan betapa sadisnya dan mirinya kehidupan yang ada di Indonesia khususnya bagi rakyat kecil. Merebakluasnya rakyat miskin dari hari ke hari bagaikan jamur yang sedang tumbuh subur. Dimana-mana kita melihat orang miskin, dimana-mana kita melihat orang yang mati kelaparan. Tidak hanya itu, bila kita menonton berita di tv berbagai macam kejahatan pun sepertinya tidak ada habis-habisnya dan rata-rata itu terjadi karena faktor ekonomi yang lemah sementara harga kebutuhan semakin naik.

Dan sebaiknya ditengah-tengah kesulitan hidup yang dirasakan oleh rakyat kecil, para mafia-mafia dan koruptorpun juga semakin tumbuh subur di negri ini. Suatu realita yang sangat menyedihkan dan sepertinya pemerintah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Hukum tidak mengenal lagi nurani, tetapi lebih beroientasi kepada pihak-pihak yang dapat memberikan sumber uang. Terlihat jelas kesenjangan yang mencolok di negri ini. Hukum seperti tidak mempunyai kuasa untuk menyentuh atau mencolek para koruptor-koruptor tersebut. Jurang yang memisahkan antara si kaya dan si miskin sepertinya semakin dalam dan terus mendalam. Si kaya akan terus bertambah kaya dan si miskin juga semakin miskin. Kaum elite di negri ini seperti menutup mata akan realita yang ada. Para wakil rakyat pun menjadi musuh dalam selimut rakyat, mereka yang dipilih rakyat untuk menyuarakan suara rakyat juga menjadi bisu akibat mulut-mulut mereka disumpal dengan uang dan kekayaan. Kalau sudah begini, jelas rakyat miskin pun tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa berharap kepada siapa-siapa lagi kecuali pada Sang Pencipta agar kiranya Ia mau melindungi para rakyat kecil di negri ini.

0 komentar:

Posting Komentar