Pernahkah anda mendengar kata “Soft Skill”? apakah sebenarnya soft skill itu? Pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas mengenai pentingnya peranan soft skill dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga, lingkungan, pekerjaan dan juga yang lainnya. Saya sendiri sebenarnya belum terlalu banyak mengetahui tentang apa itu soft skill, tetapi hal ini dikit demi sedikit mulai saya ketahui dan pelajari sejak di bangku kuliah ketika saya mendapatkan mata kuliah soft skill.
Jadi apakah soft skill itu dibutuhkan? Jawabannya sangatlah simple dan sederhana “ IYA, sangat DIBUTUHKAN” tetapi perlu pembelajaran secara terus menerus dan kerja keras untuk mendapatkan soft skill yang baik di dalam diri, karena soft skill adalah dimana kita akan memperlihatkan diri kita yang lebih beretika, percaya diri, dapat menghargai diri sendiri dan orang lain, dapat mengatur kepribadian kita dalam menjaga emosi dan tingkah laku. Sehingga orang lain dapat menilai kita jauh lebih baik dan dapat dijadikan suatu panutan atau contoh untuk melakukan hal yang serupa. Hal tersebutlah yang membuat soft skill sangatlah penting dalam kehidupan seseorang dalam menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya.
Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal. Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management.
Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya. Tidak hanya di dunia pendidikan, dalam lingkup dunia kerja saat ini, sumber daya manusia yang unggul tidak hanya memiliki kemampuan hard skills saja melainkan juga memiliki kemampuan dalam aspek soft skillsnya. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata keberhasilan seseorang di masyarakat tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain atau yangdisebut sebagai soft skills. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skills dan 80% oleh soft skills.
Menurut Setditjend Dikti (2010) Sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih sulit bersaing dengan lulusan luar negeri. Bukan dari sisi keilmuan atau kemampuan akademisnya, melainkan softskill mereka yang payah. Kelemahan mahasiswa kita justru dalam hal non teknis seperti kemampuan berbicara di depan umum, rasa percaya diri, interaksi terhadap perubahan yang cepat, inisiatif, kerjasama etika, leadership dan hal lainnya.
Dari fakta-fakta di atas, kita menyadari bahwa ternyata tidak hanya hard skill yang memiliki peranan penting dalam kesuksesan seseorang, akan tetapi soft skill juga memiliki peranan yang penting bahkan lebih dominan dibandingkan dengan hard skill yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Mengapa softskill memiliki peran yang lebih dominan. Jawabannya dapat ditelusuri melalui suatu sontoh kasus berikut. Seorang manusia sekalipun ia memiliki prestasi yang baik dalam bidang akademiknya (hardskill) namun tidak memiliki kemampuan yang baik untuk berkomunikasi, bekerjasama, berpendapat serta tidak mampu menjadi pembicara yang baik(softskill). Ia tidak akan dapat memiliki eksistensi di dalam dunia usaha untuk suatu perusahaan. Karena pekerja yang dicari ialah mereka yang mampu bekerjasama, mampu berkomunikasi serta bersaing dengan cara yang baik, sekalipun tidak memiliki hardskill yang super. Itulah mengapa, tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk mengesampingkan pembelajaran softskill.
Lantas, bagaimana soft skill dapat dipelajari? Kita dapat mempelajari soft skill melalui pengamatan atas perilaku orang lain dan juga atas refleksi tindakan kita sebelumnya. Dengan kata lain, soft skill bisa kita pelajari melalui proses pengasahan soft skill kita baik dari melihat maupun melakukan sesuatu. Konsep pembelajarannya-pun tidak terikat waktu dan tempat sehingga kita bisa belajar soft skill kapan dan di mana saja selama kita berinteraksi dengan orang lain.
Soft skills yang perlu diasah dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori yaitu: keterampilan komunikasi lisan dan tulisan (communication skills), keterampilan berogranisasi (organizational skills), kepemimpinan (leadership), kemampuan berpikir kreatif dan logis (logic and creative), ketahanan menghadapi tekanan (effort), kerja sama tim dan interpersonal (group skills) dan etika kerja (ethics). Manfaat yang dapat kita rasakan seiring dengan pembelajaran dalam meningkatkan soft skill banyak sekali. Beberapa diantaranya adalah :
• Menjadikan diri lebih percaya diri dari sebelumnya
• Mendapatkan banyak teman.
• Sering mendapatkan tawaran untuk menjadi pemimpin di beberapa organisasi.
• Dapat mengatur emosi dengan lebih baik dari sebelumnya.
• Dapat dengan lebih mudah memcahkan masalah.
• Dapat melakukan komunikasi lebih baik
• Berani menyampaikan pendapat.
• Berani berbicara di depan umum.
• Berani bernegosiasi dengan cara yang lebih baik
• Lebih dapat menghargai dan dihargai, dan masih banyak hal-hal lainnya yang dapat dirasakan setelah mencoba meningkatkan soft skill kita.
skip to main |
skip to sidebar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
| © 2010 Sekedar Corat-coret |Blogger Template by BloggerTheme
0 komentar:
Posting Komentar