Kisah Telur Paskah

Kamis, 28 Juni 2012


Sebelum saya menyampaikan isi tulisan saya ini, ada baiknya saya memberitahukan kepada siapapun yang membaca tulisan ini bahwa tulisan ini tidak bermaksud memaksa pihak atau agama manapun untuk mengikuti keyakinan saya, atau berniat memperkeruh keadaan dan toleransi antar umat beragama yang ada.  Maksud saya membuat tulisan ini adalah untuk berbagi pegetahuan, khususnya mengenai asal-usul (tradisi) mengapa di setiap perayaan Paskah selalu ada telur yang mengiasinya, padahal Alkitab sendiri tidak pernah mengisahkan tentang telur dalam Perayaan Paskah. Disini saya tidak membatasi pihak manapun dengan agama dan keyakinannya untuk membaca tulisan saya ini.  Justru saya berharap melalui tulisan ini bisa menambah pengetahuan antar-umat beragama, terutama bagi orang-orang yang tidak satu keyakinan dengan saya (non-Kristiani).  Setiap umat Nasrani pasti selalu memperingati dan merayakan Hari Raya Paskah pada setiap tahunnya, dimana Hari Raya Paskah itu diperingati untuk mengenang kembali atau memperingati tentang pengorbanan Kristus di kayu salib serta kebangkitanNya.  Mungkin kita semua sudah tahu bahwa Hari Raya Paskah selalu identik dengan telur yang di hias-hias atau yang biasa kita sebut “telur Paskah”.  Dan saya rasa tidak hanya umat Kristiani, umat lain di luar Kristiani pun pasti sebagian ada yang mengetahui tentang telur Paskah ini.  Namun demikian, ternyata tidak jarang dari masyarakat bahkan dari masyarakat Kristiani itu sendiri yang penasaran dan bertanya, mengapa telur dijadikan lambang atau simbol dari Hari Raya Paskah? Untuk memenuhi rasa penasaran itulah saya mencoba untuk mencari bahan mengenai “Kisah Telur Paskah” ini dan menyajikannya dengan sebisa saya dalam bentuk tulisan ini, dan saya harap tulisan ini bisa menjadi jawaban dari semua rasa penasaran itu. 
Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dimana telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.  Pada abad-abad pertama keKristenan, tradisi ini sulit dihapus karena memang Hari Raya Paskah selalu bertepatan jatuh pada setiap awal musim semi. Perayaan musim semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin. Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah.  Membagi-bagikan telur pada Hari Raya Paskah akhirnya diterima oleh gereja selain untuk merayakan datangnya musim semi, juga karena telur memberikan gambaran/simbol akan adanya kehidupan. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yesus Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Umat Kristen sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.
Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang KasdimSuriah dan Yunani, umat saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, sedangkan telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak.  Selain itu, masa Paskah juga dijadikan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di SuriahIrak,dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk).   Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu dan telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai telur kemenangan. Permainan ini amat digemari di Amerika Serikat lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.  Intinya dari seluruh penjabaran diatas mengenai asal-usul telur Paskah dan segala macam variasi kisahnya yang berbeda di setiap Negara mau menjelaskan kepada kita semua bahwa Hari Raya Paskah merupakan “tradisi”  atau “local content” yang dibuat oleh manusia untuk memeriahkan Perayaan Paskah dan lebih memaknainya lagi.  Atau dengan kata lain, telur Paskah bukanlah sekte atau bidat seperti yang sering dituduhkan banyak orang
Sekian sharing dari saya mengenai “Kisah Telur Paskah” semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita dan menambah wawasan kita semua.  Mohon maaf bila ada kesalahan kata yang menyinggung para pembaca. 













































0 komentar:

Posting Komentar