Sebelum
saya menyampaikan isi tulisan saya ini, ada baiknya saya memberitahukan kepada
siapapun yang membaca tulisan ini bahwa tulisan ini tidak bermaksud memaksa
pihak atau agama manapun untuk mengikuti keyakinan saya, atau berniat memperkeruh
keadaan dan toleransi antar umat beragama yang ada. Maksud saya membuat tulisan ini adalah untuk
berbagi pegetahuan, khususnya mengenai asal-usul (tradisi) mengapa di setiap
perayaan Paskah selalu ada telur yang mengiasinya, padahal Alkitab sendiri
tidak pernah mengisahkan tentang telur dalam Perayaan Paskah. Disini saya tidak
membatasi pihak manapun dengan agama dan keyakinannya untuk membaca tulisan
saya ini. Justru saya berharap melalui
tulisan ini bisa menambah pengetahuan antar-umat beragama, terutama bagi
orang-orang yang tidak satu keyakinan dengan saya (non-Kristiani). Setiap
umat Nasrani pasti selalu memperingati dan merayakan Hari Raya Paskah pada
setiap tahunnya, dimana Hari Raya Paskah itu diperingati untuk mengenang
kembali atau memperingati tentang pengorbanan Kristus di kayu salib serta
kebangkitanNya. Mungkin kita semua sudah
tahu bahwa Hari Raya Paskah selalu identik dengan telur yang di hias-hias atau
yang biasa kita sebut “telur Paskah”.
Dan saya rasa tidak hanya umat Kristiani, umat lain di luar Kristiani pun
pasti sebagian ada yang mengetahui tentang telur Paskah ini. Namun demikian, ternyata tidak jarang dari
masyarakat bahkan dari masyarakat Kristiani itu sendiri yang penasaran dan
bertanya, mengapa telur dijadikan lambang atau simbol dari Hari Raya Paskah?
Untuk memenuhi rasa penasaran itulah saya mencoba untuk mencari bahan mengenai
“Kisah Telur Paskah” ini dan menyajikannya dengan sebisa saya dalam bentuk
tulisan ini, dan saya harap tulisan ini bisa menjadi jawaban dari semua rasa
penasaran itu.
Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan
kaum Indo-Eropa dimana telur merupakan simbol musim semi.
Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat
perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang
baru. Pada abad-abad pertama keKristenan,
tradisi ini sulit dihapus karena memang Hari Raya Paskah selalu bertepatan jatuh pada setiap awal
musim semi. Perayaan musim semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi
kegembiraan meninggalkan musim dingin.
Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan
seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah. Membagi-bagikan telur pada Hari Raya Paskah akhirnya
diterima oleh gereja selain
untuk merayakan datangnya musim semi, juga karena telur memberikan
gambaran/simbol akan adanya kehidupan. Dalam Kristen,
telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yesus Kristus keluar
menyongsong hidup baru melalui kebangkitan-Nya.
Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda
istimewa Paskah,
yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Umat
Kristen sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah,
meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan
sahabat sebagai hadiah Paskah.
Di kebanyakan negara, telur-telur
diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Kasdim, Suriah dan Yunani, umat
saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus.
Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja
yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, sedangkan telur-telur yang
berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat
pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Selain itu, masa
Paskah juga dijadikan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa.
Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Suriah, Irak,dan juga Iran. Di Norwegia,
permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang
direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu dan telur
yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai telur kemenangan.
Permainan ini amat digemari di Amerika
Serikat lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington. Intinya dari seluruh penjabaran
diatas mengenai asal-usul telur Paskah dan segala macam variasi kisahnya yang
berbeda di setiap Negara mau menjelaskan kepada kita semua bahwa Hari Raya
Paskah merupakan “tradisi” atau “local
content” yang dibuat oleh manusia untuk memeriahkan Perayaan Paskah dan lebih
memaknainya lagi. Atau dengan kata lain,
telur Paskah bukanlah sekte atau bidat seperti yang sering dituduhkan
banyak orang
Sekian sharing dari saya mengenai
“Kisah Telur Paskah” semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita dan menambah
wawasan kita semua. Mohon maaf bila ada
kesalahan kata yang menyinggung para pembaca.
0 komentar:
Posting Komentar