Sejarah Piala Euro

Kamis, 28 Juni 2012


Akhir-akhir ini pentas sepakbola dunia kembali bergetar.  Hal itu tidak lain adalah karena digelarnya pesta bola empat tahunan di Eropa atau yang biasa dikenal “Euro” tahun ini di Polandia-Ukraina.  Tidak hanya di Negara-negara Eropa saja, getaran tersebut pun ternyata terasa juga sampai ke Indonesia yang mayoritas penduduknya memang menyukai sepakbola (termasuk saya).   Di mana-mana, di pelosok negeri lagi demam bola dan ramai berbicara tentang sepakbola dunia, Euro 2012 di Polandia-Ukraina.  Semua mata tertuju pada laga-laga hebat dan menawan, yang memunculkan decak kagum dari para bintang sepakbola dunia. Bila umumnnya mereka berlaga demi club mereka masing-masing, namun pada kesempatan ini mereka berlaga demi nama baik negara masing-masing yang tentunya pemain-pemainnya lebih emosional karena ini menyangkut harga diri negara dan nasionalisme mereka.  

Dampak Piala Euro ini juga pastinya menyebar ke segala sektor di Indonesia, dari mulai kaos-kaos bola atau “jersey” Euro yang dijual dimana-mana, pernak-pernik bola dan bahkan sampai ke media-media informasi pun “kecipratan”.  Banyak penyedia informasi bola secara online “baru” di sekitar kita. Seperti kita ketahui piala Euro ini adalah ajang bergengsi sepakbola yang mempertemukan pemain terbaik dengan yang lebih terbaik lagi. Bisa dipastikan bahwa akan selalu tercipta sebuah pertandingan sepakbola yang super seru. Bahkan kasarnya adalah piala Euro lebih menarik untuk ditonton daripada piala dunia karena kesemua pesertanya adalah dari benua eropa yang berpostur hampir sama.

Setelah sedikit kita membahas tentang pertandingan di dalam piala Euro dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia, maka sekarang saya akan coba berbagi penegtahuan mengenai sejarah Piala Euro ini.  Sejarah piala Eropa (euro) sebenarnya bermula dari ide Sekretaris Federasi Sepakbola Prancis (FFF) Henri Delaunay pada akhir dekade 1920-an.  Kala itu, Delaunay melihat melihat ada kepincangan di antara dua kutub itu, di mana negara Amerika Latin terlalu kuat bagi Eropa. Uruguay meraih medali emas di Olimpiade 1924 dan 1928. Bahkan, Uruguay ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia I tahun 1930 sebagai penghormatan atas prestasinya.
 
Ide Delauney sebenarnya cukup sederhana. Delauney ingin memperbanyak frekuensi pertandingan antar negara-negara Eropa dengan menggelar kejuaraan antar negara. Sayang, ide Delauney tidak digubris oleh UEFA (Persatuan sepak bolanya Eropa). UEFA malah menggelar kejuaraan antar klub Eropa yang kelak dikenal sebagai Piala Champions, Piala UEFA dan Piala Winners mulai 1954.
Hal inilah yang membuat Delauney kecewa, hingga jatuh sakit dan meninggal dunia pada November 1955. Meninggalnya salah satu sesepuh sepak bola Eropa ini sangat mengejutkan jajaran pengurus UEFA. Dalam kongres UEFA 1957, ide lawas Delauney itu akhirnya disetujui. Kongres juga memutuskan Prancis sebagai tuan rumah Piala Eropa yang pertama tahun 1960 sebagai bentuk penghormatan kepada Delauney. Pada ajang ini, Uni Soviet (kini Rusia) yang menjadi juara setelah mengandaskan Yugoslavia dengan skor 2-1 melalui perpanjangan waktu.

Sejak saat itu, setiap 4 tahun sekali UEFA menggelar perhelatan 'Piala Dunia Mini' ini. Perkembangan dari perhelatan akbar itu pun terus terjadi. Misalnya jumlah peserta Piala Eropa kedua yang berlangsung di Spanyol, 1964, membengkak dari 17 negara menjadi 29 negara. Pembengkakan ini antara lain ditandai masuknya Inggris dan Italia dalam kancah perhelatan akbar se-Eropa ini. Namun format putaran final sama seperti yang pertama, yaitu 4 tim yang lolos ke putaran final. Kali ini di final tuan rumah Spanyol menumbangkan juara bertahan Uni Soviet dengan skor 2-1.  Karena jumlah peserta semakin bertambah, maka format pertandingan pun diubah. Setiap peserta harus menjadi juara dan runner up grup terlebih dahulu untuk lolos ke putaran final. Format inilah yang menjadi format baku yang dianut setiap perhelatan piala Eropa.

Itulah sedikit yang saya ketahui mengenai sejarah Piala Euro.  Mungkin bagi sebagian banyak orang, khususnya para remaja, sejarah adalah suatu hal yang membosankan dan monoton.  Tapi dengan membaca tulisan saya ini, saya berharap banyak dari rekan-rekan remaja yang lebih mengahargai sejarah, karena sejarah pada kenyataanya dapat memberikan pengetahuan buat kita supaya kita tidak hanya asal suka dengan “sesuatu”, tapi lebih mengetahui asal “sesuatu” tersebut dan mengapa “sesuatu” tersebut itu bisa ada atau terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar