Akhir-akhir ini pentas
sepakbola dunia kembali bergetar. Hal
itu tidak lain adalah karena digelarnya pesta bola empat tahunan di Eropa atau
yang biasa dikenal “Euro” tahun ini di Polandia-Ukraina. Tidak hanya di Negara-negara Eropa saja,
getaran tersebut pun ternyata terasa juga sampai ke Indonesia yang mayoritas
penduduknya memang menyukai sepakbola (termasuk saya). Di mana-mana, di pelosok negeri lagi demam
bola dan ramai berbicara tentang sepakbola dunia, Euro 2012 di Polandia-Ukraina. Semua mata tertuju pada laga-laga hebat dan
menawan, yang memunculkan decak kagum dari para bintang sepakbola dunia. Bila umumnnya mereka berlaga demi club mereka
masing-masing, namun pada kesempatan ini mereka berlaga demi nama baik negara
masing-masing yang tentunya pemain-pemainnya lebih emosional karena ini
menyangkut harga diri negara dan nasionalisme mereka.
Dampak Piala Euro ini juga pastinya menyebar
ke segala sektor di Indonesia, dari mulai kaos-kaos bola atau “jersey” Euro
yang dijual dimana-mana, pernak-pernik bola dan bahkan sampai ke media-media
informasi pun “kecipratan”. Banyak
penyedia informasi bola secara online “baru” di sekitar kita. Seperti kita
ketahui piala Euro ini adalah ajang bergengsi sepakbola yang mempertemukan
pemain terbaik dengan yang lebih terbaik lagi. Bisa dipastikan bahwa akan
selalu tercipta sebuah pertandingan sepakbola yang super seru. Bahkan kasarnya
adalah piala Euro lebih menarik untuk ditonton daripada piala dunia karena
kesemua pesertanya adalah dari benua eropa yang berpostur hampir sama.
Setelah
sedikit kita membahas tentang pertandingan di dalam piala Euro dan dampaknya
bagi masyarakat Indonesia, maka sekarang saya akan coba berbagi penegtahuan
mengenai sejarah Piala Euro ini. Sejarah
piala Eropa (euro) sebenarnya bermula dari ide Sekretaris Federasi Sepakbola
Prancis (FFF) Henri Delaunay pada akhir dekade 1920-an. Kala itu, Delaunay melihat melihat ada
kepincangan di antara dua kutub itu, di mana negara Amerika Latin terlalu kuat
bagi Eropa. Uruguay meraih medali emas di Olimpiade 1924 dan 1928. Bahkan,
Uruguay ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia I tahun 1930 sebagai
penghormatan atas prestasinya.
Ide
Delauney sebenarnya cukup sederhana. Delauney ingin memperbanyak frekuensi
pertandingan antar negara-negara Eropa dengan menggelar kejuaraan antar negara.
Sayang, ide Delauney tidak digubris oleh UEFA (Persatuan sepak bolanya Eropa).
UEFA malah menggelar kejuaraan antar klub Eropa yang kelak dikenal sebagai
Piala Champions, Piala UEFA dan Piala Winners mulai 1954.
Hal
inilah yang membuat Delauney kecewa, hingga jatuh sakit dan meninggal dunia
pada November 1955. Meninggalnya salah satu sesepuh sepak bola Eropa ini sangat
mengejutkan jajaran pengurus UEFA. Dalam kongres UEFA 1957, ide lawas Delauney
itu akhirnya disetujui. Kongres juga memutuskan Prancis sebagai tuan rumah
Piala Eropa yang pertama tahun 1960 sebagai bentuk penghormatan kepada
Delauney. Pada ajang ini, Uni Soviet (kini Rusia) yang menjadi juara setelah
mengandaskan Yugoslavia dengan skor 2-1 melalui perpanjangan waktu.
Sejak
saat itu, setiap 4 tahun sekali UEFA menggelar perhelatan 'Piala Dunia Mini'
ini. Perkembangan dari perhelatan akbar itu pun terus terjadi. Misalnya jumlah
peserta Piala Eropa kedua yang berlangsung di Spanyol, 1964, membengkak dari 17
negara menjadi 29 negara. Pembengkakan ini antara lain ditandai masuknya
Inggris dan Italia dalam kancah perhelatan akbar se-Eropa ini. Namun format
putaran final sama seperti yang pertama, yaitu 4 tim yang lolos ke putaran
final. Kali ini di final tuan rumah Spanyol menumbangkan juara bertahan Uni
Soviet dengan skor 2-1. Karena jumlah
peserta semakin bertambah, maka format pertandingan pun diubah. Setiap peserta
harus menjadi juara dan runner up grup terlebih dahulu untuk lolos ke putaran
final. Format inilah yang menjadi format baku yang dianut setiap perhelatan
piala Eropa.
Itulah sedikit
yang saya ketahui mengenai sejarah Piala Euro.
Mungkin bagi sebagian banyak orang, khususnya para remaja, sejarah
adalah suatu hal yang membosankan dan monoton.
Tapi dengan membaca tulisan saya ini, saya berharap banyak dari
rekan-rekan remaja yang lebih mengahargai sejarah, karena sejarah pada
kenyataanya dapat memberikan pengetahuan buat kita supaya kita tidak hanya asal
suka dengan “sesuatu”, tapi lebih mengetahui asal “sesuatu” tersebut dan
mengapa “sesuatu” tersebut itu bisa ada atau terjadi.
0 komentar:
Posting Komentar