Seperti judulnya di atas tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari tayangan (program) yang ada di salah satu stasiun telivisi swasta yang bernama “orang pinggiran”. Saya tidak tau persis hari kapan saja di tayangkanya program ini, tapi biasanya saya sering menonton tayangan ini sepulang dari kampus (kira-kira jam setengan 6an). Tayangan ini menayangkan tentang kehidupan orang-orang yang ada di “pinggiran” atau bahasa lazimnya orang-orang kecil dan miskin. Saya sangat suka dan menghargai akan adanya tayangan ini, mengingat sekarang-sekarang ini banyak sekali acara-acara di telivisi yang tidak mendidik dan hanya bercerita tentang cinta, cinta dan cinta. Tetapi, bukan semata-mata saya turut senang atau bahagia dalam penderitaan dan kesusahan mereka, tapi banyak sekali hal yang dapat saya pelajari dari kehidupan mereka yang serba dalam keterbatasan tersebut.
Tentunya seiring perkembangan zaman, kita semakin terbius oleh hal-hal atau produk-produk yang ditawarkan oleh global yang lebih cenderung hanya menguntungkan pihak-pihka atas saja / kaum elite sehingga kita sering lupa akan sesama kita. Apalagi bila kita melihat dalam realitanya kehidupan dan pergaulan para muda-mudi bangsa ini, khususnya mereka yang hidup dalam lingkungan perkotaan dan kemewahan yang dominanya hidup identik dengan narkoba dan seks bebas. Dan bila saya perhatikan pola hidup seperti di atas sudah menular kepada dunia pendidikan dan akademi secara khusus dunia mahasiswa atau kampus. Kenapa saya dapat berkata demikian tentunya dari realita yang saya temui setiap hari karena saya juga masih menyandang status sebagai mahasiswa. Padahal masa depan bangsa dan negara ini jelas tergantung oleh para muda-mudinya.
Tidak hanya itu, bila kita menyimak dan menyoroti kelakuan para pejabat dan pemimpin-pemimpin negri ini yang penuh dengan ketidakadilan dan kerakusan. Maka lengkaplah sudah penderitaan negri ini dan rakyat jelata yang hidup didalamnya. Untuk itu, menurut saya pribadi tayangan seperti orang pinggiran sangat bermutu dan bermanfaat untuk menyadarkan setiap dari kita untuk memperhatikan mereka yang hidup dalam keterbatasannya.
Bila menonton tayangan tersebut, saya merasa sangat malu dengan mereka yang walaupun hidup dalam serba keterbatasan dan kesusahan tapi mempunyai semangat hidup yang tinggi dan tidak putus asa. Bahkan banyak dari mereka yang berumur 12 tahun ke bawah sudah harus bekerja membantu orang tua mereka untuk bertahan hidup setiap harinya. Lewat sikap hidup mereka saya belajar bahwa saya harus bersyukur senantiasa atas semua pemberian yang telah Tuhan berikan. Dan saya juga belajar dari ketegaran mereka yang walaupun hidup dalam berbagai kepahitan tapi tetap bekerja keras dengan senyuman sambil menaruh harapan pada Tuhan.
skip to main |
skip to sidebar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
WeLcome To My Blog ...
Followers
Blog Archive
-
▼
2011
(70)
-
▼
Maret
(22)
- Peranan Kebijakan Fiskal Di Sektor Dalam Dan Luar ...
- Mereka Atau Aku
- Jantung Tikus Dapat Memeperbaharui Diri
- Minum Alkohol Dapat Mencegah Sakit Jantung
- The World’s Most Beautiful
- Kisah Nyata " Kebesaran Jiwa Seorang Ibu
- 4 Faktor Penting DalamPerekonomian Indonesia
- Perkembangan Modernisasi Pertanian
- Hubungan Sebab-Akibat Antara Ketidakmerataan Penda...
- Belajar Berbagi, Belajar tentang Empati
- HUTA HUTA DO HUTANAMI
- Legenda Danau Toba
- Masa SMA adalah masa yang paling indah
- Legenda Datu Kalaka
- Winners Versus Loser
- Orang Pinggiran
- Mengubah Pola Pikir
- Mengapa Saya?
- Pengangguran Di Indonesia
- Cintaku CInta Jalanan
- Kebijaksanaan Moneter
- Apa sebenarnya Inflasi itu?
-
▼
Maret
(22)
| © 2010 Sekedar Corat-coret |Blogger Template by BloggerTheme
0 komentar:
Posting Komentar