Apa sebenarnya Inflasi itu?

Minggu, 06 Maret 2011

Banyak sudah komentar, pendapat, dan pandangan mengenai apa yang disebut dengan inflasi. Jika didengarkan secara sepintas tampaknya komentar-komentar tersebut lebih mengarah pada suatu kesimpulan bahwa inflasi tersebut berbahaya, inflasi itu sesuatu yang buruk bagi perekonomian. Tidak jarang pula inflasi harus menerima tuduhan sebagai penyebab gagalnya berbagaia kegiatan ekonomi suatu negara. Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita bahas secara sepintas masalah inflasi yang termasuk salah satu penyakit eonomi tersebut. Inflasi sering diartikan sebagai suatu kecenderungan naiknya harga-harga secara umum dalam waktu dan wilayah tertentu. Dari pengertian itu dapat diambil beberapa poin penting mengenai inflasi, bahwa inflasi ini terjadi :

 Diwarnai kenaikan harga-harga komoditi secara umum, atau dapat dikatakan hampir setiap komoditi mengalami kenaikan.

 Dapat diketahui dan dihitung jika telah berjalan dalam kurun waktu tertentu dan dalam wilayah tertentu. Di Indonesia sendiri digunakan waktu sebulan atau setahun dalam mengetahui terjadinya dan besarnya inflasi yang terjadi.

Dengan demikian jika kenaikan harga tidak menyeluruh, atau jika toh menyeluruh namun hanya terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat dan dalam wilayah tertentu yang terbatas, maka inflasi menjadi agak kurang tepat disebutkan. Banyak ahli ekonomi kemudian mengulas dan kemudian membagi inflasi ini menjadi beberapa pengertian menurut beberapa sudut pandang.
Jika dilihat dari parah tidaknya, atau besar kecilnya inflasi yang muncul, inflasi dapat dibagi dalam :

 Inflasi ringan jika nilainya berkisar 0% s/d 10%
 Inflasi sedang jika nilainya berkisar 10% s/d 30%
 Inflasi berat jika nilainya berkisar 30% s/d 100%
 Hyperinflasi jiak nilainya >100 %

Jika dilihat dari sebab-sebab kemunculanya, inflasi dibagi dalam :

• Inflasi karena naiknya permintaan
Inflasi karena naiknya permintaan, yakni inflasi yang terjadi karena adanya gejala naiknya permintaan secara umum, sehingga sesuai dengan hukum permintaan maka hargapun secara umum akan cenderung naik.

• Inflasi yang terjadi karena naiknya biaya produksi
Inflasi yang kedua ini terjadi jiak kecenderungan naiknya harga lebih diakibatkan karena naiknya biaya produksi, seperti naiknya upah yenaga kerja, naiknya harga bahan baku dan penolong dan sejenisnya. Jika ini yang terjadi akibatnya adalah lebih buruk dari inflasi yang disebabkan karena naiknya permintaan masyarakat.

• Inflasi yang berasal dari dalam negeri
Yang dimaksud dengan inflasi dari dalam negeri adalah inflasi yang terjadi dikarenakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam negeri, seperti misalnya peredaran uang di dalam negeri yang terlalu banyak. Peredaran uang yang terlalu banyak akan menyebabkan kepercayaan masyarakat kepada uang menjadi berkurang ( karena mendapatkan uang relatif mudah), dengan kata lain jumlah uang yang beredar lebih banyak dari yang dibutuhkan. Sehingga jika hasil produksi tidak meningkat maka orang lebih menghargai barang daripada uang, sehingga kalau barang tersebut dijual, tentulah dengan harga yang tinggi. Jika semua komoditi mengalami demikian, maka munculah inflasi.

• Inflasi yang berasal dari luar negeri
Inflasi yang terjadi di negara lain seringkali merembet ke negara Indonesia. Proses terjadinya diawali dengan masuknya komoditi impor yang telah terkena inflasi (harga naik) di negara asalnya. Sehingga komoditi impor tersebut kita beli dengan harga yang mahal pula. Jika kemudian komoditi tersebut kita olah sebagai bahan baku untuk sebuah produk, maka tentu harga produk tersebut akan menjadi mahal.


Jika kita perhatikan, maka inflasi memang akan membawa dampak yang kurang baik bagi beberapa aspek keiatan ekonomi masyarakat; diantarnya :

 Pertama , inflasi akan menjadikan turunya pendapatan rill masyarakat yang memiliki penghasilan tetap. Karena dengan penghasilan yang tetap mereka tidak dapat menyesuaikan pendapatanya (menaikan pendapatanya) dengan kenaikan harga yang disebabkan karena inflasi. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki penghasilan yang dinamis (pedagang dan pengusaha ) justru biasanya akan mendapat manfaat dari adanya kenaikan harga tersebut dengan cara menyesuaikan harga jual produk yang dijualnya.

 Kedua, inflasi menyebabkan turunya nilai rill kekayaan masyarakat yang berbentuk kas, karena nilai tukar kas (uang misalnya) tersebut akan menjadi lebih kecil, karena secara nominal harus menghadapi harga komoditi persatuan yang lebih besar.

 Ketiga, inflasi akan menyebabkan nilai tabungan masyarakat menjadi turun, sehingga orang akan cenderung memilih menginvestasikan uangnya dalam aktiva yang lebih baik, daripada menabungkanya ke bank. Dengan gejala ini, tentulah akan menggoyahkan dunia perbankan sebagai salah satu sumber perolehan dana yang culup penting di Indonesia.

Jika untuk sementara dilihat akibat-akibat buruk diatas, tampaknya benar komentar atau pendapat sebagian masyarakat mengenai inflasi. Namun jika kita kaji lebih mendalam, sesungguhnya inflasi yang melewati batas toleransi amanlah yang akan berakibat buruk seperti diatas. Sebagai gambaran, sesungguhnya inflasi itu menggambarkan bahwa disuatu negara ada kegiatan ekonomi, yang diperlihatkan dengan adanya kenaikan harga (ekonomi yang dinamis). Justru negara yang tidak memiliki inflasi yang perlu diragukan, apakah di negara tersebut ada proses produksi, ada transaksi dan ada kegiatan ekonomi lainnya.

Meskipun banyak orang lebih melihat inflasi sebagai suatu yang merugikan, namun bila kita melihat realitanya ada beberapa sisi positif dari adanya inflasi ini, yakni :

• Inflasi yang terkendali menggambarkan adanya aktivitas ekonomi dalam suatu negara

• Inflasi terkendali merangasang masyarakat untuk terus berusaha bekerja keras untuk menungkatkan kesejahterannya, agar tetap dapat mengikuti penurunan nilai rill pendapatannya.

0 komentar:

Posting Komentar